kipsee

CINTA DALAM PERSAHABATAN

Sembari mencari-cari sebuah kotak yang berisikan tumpukan manik-manik untuk kerajinan tangan, ku temukan beragam barang yang telah ku lupakan keberadaannya..

Aku kembali tertegun pada satu persatu barang yang ku temukan..terdapat kumpulan kertas-kertas surat yang lucu yang sudah usang yang belum pernah ku gunakan, sebuah buku diary kecil hadiah ulang tahunku dari teman bernama meity dan dinar pada saat aku kelas 1 SMA beserta ucapan selamat ulang tahun yang masih sangat rapi tersimpan didalamnya, adapula piagam kelulusan SMA, tiket masuk pensi 34 yang sudah lama sekali berlalu ketika itu aku menyertakan diri sebagai anggota paduan suara, kartu nilai kelulusan SD untuk masuk ke SMP ternyata nilaiku hanya 39 untung saja aku masih diterima di SMP negeri walaupun tak begitu bagus namun aku mendapatkan pelajaran yang cukup berkesan disana, dompet-dompet kecil kekanank-kanakan yang tidak sering ku gunakan yang berisikan sebagian foto ku dan teman-teman SMP, ukiran putih yang selalu ku banggakan walaupun tidak melebihi kemampuan seorang seniman sejati namun aku bangga karena ini ukiran pertama yang ku buat sewaktu SMA, barang-barang lainnya…sampai ku temukan manik-manik yang ku cari-cari sejak tadi.

Perlahan demi perlahan memori yang seolah tersimpan rapat dibalik tumpukan barang-barang lama membuat ku kembali terngiang dalam masa lalu, walau tak banya teman yang ku miliki, namun aku memiliki sosok teman-teman yang sangat perhatian dan menyayangiku..

Apa yang telah ku berikan pada mereka?

Aku takut„sampai jantung ini tak mampu lagi berdetak, tubuh ini terbujur kaku.. aku takut melupakan kalian teman- teman.. aku takut tak mampu menjadi teman yang dapat kau andalkan dan dapat memberimu kesan yang indah sebagai kenangan bahwa kita pernah memiliki “sesuatu” yang berharga.

Sampai detik ini aku menuliskan hal ini, tak ingin sekalipun aku meninggalkan kalian dalam sisi burukku„

Teman…aku sangat mencintai kalian..sangat menyayangi kalian..

aku akan mengingat kalian, meski mungkin tak setajam ingatan tumpul ini, tapi kalian selalu ada, tersimpan dalam hatiku.

Ku berharap kalian bahagia..berharap kalian masih mengingatku..

C-I-N-T-A

hiks

harapan yang terlalu tinggi tentang cinta dan kebahagiaan menjatuhkanku kembali dalam lipur lara..semoga kali ini tidak berkepanjangan..mungkin memang ini yang terbaik..aku tak mengerti apa batas dan karakter cinta..aku cuma menjalaninya tanpa tahu persis apa itu sebenarnya. Semoga tak ada lagi cinta..atau apalah itu..yang membuatku berlara.

tindak pidana korupsi

JudulLaw Enforcement Dalam Tindak Pidana PerbankanSumber DataBiro Hubungan MasyarakatTanggal5-02-2010Hits4700ContactBiro Humas, Telp : (62-21) 381-7187 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.idLampiran

Tindak Pidana Perbankan

Agar industri perbankan menjadi industri yang makin sehat dan dapat dipercaya masyarakat, Bank Indonesia menerapkanlaw enforcement atas tindak pidana perbankan bekerjasama dengan Kepolisian RI dan Kejaksaan RI. Upaya ini sejalan dengan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API), khususnya Pilar 3, yaitu menciptakan industri perbankan yang kuat dan memiliki daya saing yang tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko.

Kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas perbankan secara lengkap tertuang dalam Undang-undang  No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2004 (UU BI) maupun dalam Undang-undang  No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentangPerbankan. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk :

1.     memberikan izin (right to licence);

2.     mengatur (right to regulate);

3.     mengawasi (right to supervise); serta

4.     mengenakan sanksi (right to impose sanction).

Terkait dengan kewenangan mengenakan sanksi, Bank Indonesia selaku otoritas perbankan melalui mekanisme pengawasan dan pembinaan hanya dapat menyelesaikan perbuatan yang bersifat administratif serta hanya berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap suatu bank yang terbukti melakukan kegiatan usaha yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku sedangkan penyimpangan yang mempunyai indikasi tindak pidana, proses pengenaan sanksinya diserahkan kepada penegak hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pengawasan dan Law Enforcement itu sendiri merupakan dua komponen yang tak terpisahkan dalam suatu sisterule of law. Tidak akan ada law enforcement kalau tidak ada sistem pengawasan dan tidak akan ada rule of law  kalau tidak adalaw enforcement yang memadai. Jika hal ini di analogkan dengan sistem perbankan, maka pengawasan dan law enforcement dapat berperan dalam mengoptimalkan fungsi perbankan agar tercipta sistem perbankan yang sehat, baik sistem perbankan secara menyeluruh maupun individual, dan mampu memelihara kepentingan masyarakat dengan baik, berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi perekonomian nasional.

Berkaitan dengan keterbatasan kewenangan tersebut, dalam rangka menegakkan hukum pada industri perbankan dan mengamankan dana masyarakat serta kekayaan negara yang ada pada bank, Bank Indonesia memandang perlu untuk melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum dalam penanganan tindak pidana di bidang perbankan. MelaluiSurat Keputusan Bersama (SKB) antara Kepala Kepolisian R.I, Jaksa Agung R.I, dan Gubernur BI, yang dikeluarkan pertama kali pada tanggal 6 November 1997 dan diperbaharui pada tanggal 20 Desember 2004, ketiga instansi tersebut sepakat untuk bekerjasama dalam penanganan dugaan tindak pidana di bidang perbankan. Melalui kerjasama ini,diharapkan setiap kasus perbankan dapat diselesaikan secara lancar, cepat dan optimal.

Untuk mendukung pelaksanaan SKB dan melakukan tindakan represif terhadap pelanggaran dan penyimpangan serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, khususnya yang mengandung unsur tindak pidana di bidang perbankan, Bank Indonesia membentuk satuan kerja yang khusus menangani dugaan tindak pidana di bidang perbankan.Pembentukan DIMP diharapkan dapat menimbulkan announcement effect terhadap dunia perbankan yaitu law enforcementdalam kegiatan perbankan tetap dilaksanakan dan ditegakkan serta segala bentuk penyimpangan akan membawa konsekuensi hukum bagi para pelakunya.

Dalam pelaksanaannya, diperlukan langkah yang memperlancar, mempercepat dan mengoptimalkan penanganan dugaan tindak pidana di bidang perbankan maka pada tahun 2007 dibuat Petunjuk Teknis SKB yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, Kepala Badan Reserse Kriminal POLRI dan Deputi Gubernur BI.

Sejak tahun 1999 hingga saat ini, terdapat 580 kasus dugaan tindak pidana perbankan yang terjadi baik di bank umum maupun bank perkreditan rakyat yang telah dilaporkan oleh Bank Indonesia kepada penegak hukum melalui mekanisme SKB. saat ini masih terdapat 448 kasus yang masih dalam proses penanganan penegak hukum. Kasus-kasus tersebut merupakan bagian dari kasus-kasus tindak pidana perbankan yang telah dilaporkan oleh Bank Indonesia melalui mekanisme SKB sejak tahun 1999.

Disamping melakukan kerjasama dengan penegak hukum, Bank Indonesia juga melakukan kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

 

Mediasi Perbankan

 

Sebagai bagian dari pelaksanaan perlindungan konsumen, Bank Indonesia telah mengimplementasikan Arsitektur Perbankan Indonesia yang salah satu pilarnya (Pilar 6) adalah Perlindungan Nasabah. Pilar tersebut menjelaskan bahwa perbankan wajib menyusun standar mekanisme pengaduan nasabah secara jelas dan mudah dipahami nasabah, pembentukan lembaga mediasi perbankan independen guna menjembatani sengketa yang terjadi antara bank dan nasabah, penyusunan transparansi informasi produk dan promosi edukasi untuk nasabah yang diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas dan memadai sehingga masyarakat mengerti dan paham mengenai produk dan jasa perbankan.

Pelaksanaan fungsi mediasi perbankan oleh Bank Indonesia yang  dimulai sejak tahun 2006 terutama dilakukan untuk menjembatani kepentingan nasabah dan bank sebagai alternatif penyelesaian sengketa perbankan yang bermanfaat bagi perlindungan nasabah dan dalam upaya menjaga terpeliharanya reputasi bank. Hingga saat ini  Bank Indonesia telah menerima 737 kasus pengaduan nasabah di 71 bank. Prosentase terbesar, terkait masalah sistem pembayaran, penyaluran dana dan penghimpunan dana.

 

Nasabah yang memanfaatkan produk/jasa bank dan menemui permasalahan dalam pemanfaatan produk/jasa tersebut, dapat mengajukan pengaduan kepada bank untuk mendapatkan penyelesaian. Apabila kemudian nasabah tidak puas dengan penyelesaian yang dilakukan bank, maka nasabah dapat mengajukan upaya penyelesaian permasalahannya melalui mediasi perbankan yang saat ini fungsinya dilaksanakan oleh Bank Indonesia.

 

Keunggulan pelaksanaan fungsi mediasi itu sendiri adalah :

1.   Kesepakatan para pihak (voluntary);

2.   Terjaganya hubungan baik (forward looking);

3.   Terjaganya kepentingan masing-masing pihak (interest based); dan

4.    Proses yang murah, cepat dan sederhana

Dalam melaksanakan fungsi mediasi, Bank Indonesia juga melakukan berbagai kerjasama dengan berbagai pihak, baik dengan industri perbankan sendiri (melalui pembentukan Working Group Mediasi Perbankan), akademisi, praktisi dan lembaga/asosiasi mediasi.


*BI*

http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Publikasi+Lain/Publikasi+Lainnya/05012010.htm

Vakansi
[www.rhyocapsule.com] White Shoes & The Couples Company / www.rhyocapsule.com
[Flash 9 is required to listen to audio.]
0 plays
ide nama

CII (creative, Innovative and Independent)

Cfive (Care,